Sudah tujuh hari ini aku dan kawan-kawan resmi menyandang status yang baru. Dahulu kami yang hidup bersama dalam keluarga dengan seorang ayah yang bijaksana, merasakan kehangatan dan kebersamaan yang sempurna. Setiap seminggu sekali, aku dan kawan-kawan secara berkelompok bertemu duduk bersama beliau dengan pakian yang serba putih untuk mendengarkan untaian mutiara sabda Rasulullah saw. yang termaktub dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Tidak boleh sama sekali diantara kami yang tidak memakai pakaian putih, termasuk aku. Tidak boleh diantara kami yang melewatkan sedikitpun dari penjelasan beliau, termasuk aku.

Jika tiba-tiba aku tidak bisa menahan kantuk, maka sorotan tajam dan kalimat yang tegas akan diucapkan beliau kepadaku, madza qultu anaa ?, tiga kata yang pasti aku terlontar dan akan membuat mati kutu bila tidak bisa menjawabnya. Aku pun pernah merasakan akibatnya, dan harus berdiri sambil memegang kitab agar tidak mengantuk lagi. Dari hal ini beliau mengajarkan bahwa belajar harus sungguh-sungguh, tidak boleh mengalah pada keadaan, dan itu sudah beliau contohkan sendiri. Namun, aku kini seorang yatim yang tidak akan pernah lagi mendapatkan bentuk pelajaran dan perhatian ini.

Aku belajar banyak hal dari beliau, termasuk harus sungguh – sungguh amanah menjalankan tanggung jawab. Aku menyesal, diakhir pertemuanku justru keteledoran yang aku suguhkan kepada beliau. Pagi itu, daftar materi pelajaran tertinggal dan tentu saja beliau menanyakan, manil mas’ul ?, sambil ragu dan gemetar aku pun angkat tangan. Beliau langsung saja menyampaikan mengenai tanggungjawab yang tidak boleh terlewatkan sama sekali. Langsung saja, tanpa pikir panjang, aku langsug lari mengambilnya. Namun, aku kini seorang yatim dan bahkan aku tidak memberikan kesan yang baik diakhir pertemuan itu.

Beliau, ayah bagi aku dan kawan-kawan. Demikianlah yang selalu beliau katakan, antum abnaa’i, antum abnaa’i. Namun, aku masih sangat dini, aku belum berusia setahun sudah harus menjadi yatim karena tak akan ada lagi beliau disisi kehidupan. Aku kehilangan, kami kehilangan, tak akan ada lagi tangan wangi yang kami cium setiap halaqah shahih bukhari dan muslim. Tiada lagi yang menyeru shallu rak’atain setiap kali selesai halaqah fajriah.

Kini, aku menjadi yatim. Usiaku yang muda ini, masih butuh banyak bimbingan dari beliau. Namun, engkau begitu cepat meninggalkan kami. Kini, aku seorang yatim, tidak memiliki sosok ayah yang memberikan contoh ketegasan dan keikhlasan. Ketegasan dalam memegang prinsip, bahwa kebenaran harus dikatakan benar dan kebatilan harus dikatakan batil. Keikhlasan dalam berdakwah, bahwa engkau selalu mementingkan urusan umat tanpa adanya pamrih, bahwa engkau berdakwah dengan menyampaikan pelajaran hadis kepada kami tanpa mengenal letih.

Aku, kini seorang yatim, yang kehilangan penerang hidup dimana dulu selalu kudapatkan dari kalimat-kalimatmu yang berwibawa. Namun, kini benar-benar aku sadari bahwa aku seorang yatim. Antum abnaai, antum abnaai, antum abnaai tak akan lagi kudengar.

Teriring do’a semoga kepergian ayahanda melalui jalan yang bahagia. Semoga saat diakhirat nanti masih bisa bertemu denganmu lagi wahai ayahanda dan engkau masih mengingatku karena engkau pernah berkata bahwa aku termasuk anak-anakmu.

Teriring do’a :

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه

Faiz Nashrulloh Al Hakim

Mahasantri Darus-Sunnah

Leave a Reply