ULAMA DAN KITAB KUNING; Catatan Singkat Program Pengajian Ramadhan Madrasah Darus-Sunnah Ciputat

Ulama dan kitab kuning adalah dua hal yang identik dan tak terpisahkan. Identik dalam artian jika disebut salah satu dari kedua kata ini, maka satu kata yang lain akan (selalu) cepat terlintas di benak pendengar maupun orang yang mengujarkannya. Tak berlebihan jika dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Profile of the Prophet’s Successors” (2016), KH. Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) menegaskan bahwa satu diantara kriteria ulama adalah mampu membaca dan menguasai literatur kitab kuning (the people who can read the “islamic classical books”).

Terkait hal ini, Madrasah Darus-Sunnah Ciputat (MDS) yang didirikan untuk mengejawantahkan visi mengader ulama sejak dini, memancangkan sebuah misi menyelenggarakan pendidikan agama yang syamil (holistik), yang salah satunya ialah berbasis kitab kuning. Selain dipelajari di tiap hari ketika aktif Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, pengajian kitab kuning juga dikemas dalam bentuk lain, semisal pengajian Pasaran di bulan Ramadhan.

Hampir dua minggu, santri MDS dari pagi hingga sore, memiliki jadwal yang padat mengikuti pembacaan ragam kitab yang sudah dijadwalkan. Yang menarik adalah sentuhan-sentuhan metode pengajaran yang khas-semi modern yang disiapkan. Sebagai misal ialah format kelas kecil, active learning, dan billingual.

Guna mencapai target pembelajaran yang sudah digodok oleh berbagai asatidz yang pakar di bidangnya, maka satu kelas tidak boleh lebih dari 10-15 anak. Selain itu, sistem kelas berbasis kemampuan juga diterapkan. Oleh karenanya, dari 11 kelas yang dibuka, ada dua katagori yang spesifik, yakni kelas membaca dan kelas memahami.

Jika yang pertama difokuskan untuk memperkuat kemampuan analisis dan praktik penguasaan grammatikal bahasa Arab dalam membaca kitab kuning, maka kelas yang kedua difokuskan untuk memperkuat pemahaman siswa atas teks-teks berbahasa Arab yang tak berharokat itu (kitab gundul). Selain itu, beberapa kelas juga menggunakan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar.

Dengan strategi ini, diharapkan peserta didik akan lebih cepat dan maksimal menguasai “luas dan dalamnya” samudra keilmuan yang telah dibentangkan oleh ulama-ulama klasik dulu.

Semoga.

Leave a Reply