• Angkatan ini sejak awal menyebut dirinya sebagai angkatan Mazaya (duf’ah mazaya), yang secara literal dapat diartikan “Banyak Keistimewaan” atau “Banyak Kelebihan”.

• Betul, banyak keistimewaan di angkatan ini. Mulai dari angkatan pertama sejak sepeninggal Pak Kiai, hingga angkatan pertama pula yang wisuda offline-nya harus ditunda karena Corona.

• Adalah manusiawi, bagi sebagian orang jika kenyataan itu dianggap sebagai hal yang disayangkan. Namun, lagi-lagi mazaya tetap didapat oleh angkatan ini.

• Kalau baginda Nabi selalu mengapresiasi orang-orang yang semangat berjuang, meskipun kemudian gagal ikut tampil di medan juang karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan, beliau selalu menyematkan mazaya (keistimewaan-keistimewaan) yang tentunya tidak didapat oleh mereka yang prosesnya sama dengan yang umum-umum saja. Ada sahabat yang gagal berjihad fi sabilillah, namun dapat pahala dan keutamaan jihad fi sabilillah secara utuh seperti yang berangkat berjuang. Beda proses dan kerjaannya, tapi tetap sama hasil dan keutamaannya. Mazaya, bukan?!

• Kalau ada orang yang gagal berangkat berhaji, padahal sudah ingin sekali, sudah siap, namun apa daya, kondisi tidak memungkinkan, maka ia tetap mendapatkan keutamaan haji secara utuh, meskipun tidak bisa berangkat. Niat dan semangat mereka lebih besar dan lebih utama daripada sekedar amaliahnya.

• Semangat belajar yang dimiliki angkatan Mazaya, tanpa kehadiran Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA di tengah-tengah halaqah mereka adalah satu kondisi berbeda yang tersendiri. Ini juga mazaya. Tidak semua orang mau dan mampu bertahan dalam kondisi yang seperti itu, karena biasanya orang belajar ada yang ingin belajar kepada kiainya saja. Begitu pula, wisuda yang tertunda atau kelulusan daring juga menjadi penambah keistimeaan. Pastinya, semuanya ingin selebrasi yang meriah di acara wisuda, namun kemeriahan kali ini adalah kemeriahan hati yang sabar, qana’ah, dan penuh syukur. Bukan sekedar kemeriahan tepuk tangan atau lalu lalang orang dengan dandanan yang keren. Sekali lagi, itulah mazaya.

• Duf’ah Mazaya juga tentunya menjadi pionir pembelajaran, pengasuhan, dan pendidikan di Darus-Sunnah yang tanpa kehadiran guru besarnya. Alhamdulillah angkatan Mazaya berhasil memberikan bukti bahwa belajar itu jangan terkendala oleh kondisi-kondisi yang tidak sesuai harapan. Apapun kondisinya, bagaimanapun situasinya, bersama siapapun belajarnya, belajar, mengaji dan beramal adalah kewajiban yang tak boleh tertunda. Lakum mazâyâ haqqan.

• Kalau guru besar kita semua, Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA sering berpesan”Kun Khâdiman li Rasûlilâh [jadilah pelayan Rasulullah!]”, maka momen wisuda di Darus-Sunnah sejatinya adalah momen peresmian status dan gelar khadimun Nabi. Banyak hal yang harus kita pelajari sembari menyandang gelar agung nan mulia itu. Pelajarilah sampai mati, karena gelar khadimun Nabi yang sesungguhnya baru akan disematkan saat prosesi wisuda kehidupan dunia, di area pemakaman nanti. Nahnu thullabul ‘ilmi ila yaumil qiyamah. Sekali lagi, Antum khuddamu Rasulillah al-an. Jangan lupa berkarya! Semoga ilmumu kekal mengalir terus manfaatnya untuk umat. Amin.

• Terimakasih atas persahabatannya selama ini. Semoga jadi persahabatan yang abadi, bermanfaat, dan penuh berkah. Mohon maaf atas segala khilaf lisan, perbuatan, pikiran, perasaan, hingga kata hati. Lakum mazâyâ haqqan.

Ciputat, 9 Zulhijah 1441 H./30 Juli 2020 M
Sahabat[nya] Mazaya, Pelayan di DS
Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah