PROFIL PONDOK PESANTREN DARUS SUNNAH

 
Gedung Darus-Sunnah 1

Visi

Tujuan didirikannya Pesantren ini adalah menyiapkan generasi yang memahami agama Islam dengan benar sebagaimana diamalkan salafus shalih. Pesantren ini juga mengembangkan dan menyebarkan hadis serta ilmunya, baik dalam studi dan pengamalan.

Peraturan Studi dan Waktu Pembelajaran

Sistem Pembelajaran di Darus-Sunnah adalah usaha kombinasi antara sistem pendidikan pesantren dan perguruan tinggi, juga antara praksis peng­amalan dan budaya kajian p­emikiran.

Masa pendidikan terhitung 4 tahun/8 semester setingkat sarjana dan mendapat predikat lulusan License (Lc.). Waktu pembelajaran terbagi 2, yaitu pengajian pagi pukul 05.00 (ba’da Subuh) – 06.30 dan pengajian malam pukul 20.00 (ba’da Isya’) – 21.30.

Ekstrakurikuler dan Pengembangan Mahasantri

Darus-Sunnah International Institute selain mengadakan pembelajaran setiap harinya, juga memiliki organisasi sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mahasantri, yakni sebagai berikut:

  1. IMDAR (Ikatan Mahasantri Darus-Sunnah) Putra dan Putri
  2. Lembaga Tahfizh Al Quran “Al Itqon”
  3. Lembaga Pers Mahasantri (LPM) NABAWI
  4. Lembaga Kajian dan Riset RASIONALIKA
  5. Sistem Informasi Darus Sunnah “SIDS”
  6. Pengembangan Bahasa Arab dan Inggris, masing-masing selama dua minggu setiap bulan

Pengajar Darus-Sunnah

Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences berada di bawah naungan Yayasan Wakaf Darus-Sunnah yang dipimpin Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.

Sejarah Darus Sunnah

Darus sunnah yang kita cintai ini mempunyai latar belakang dalam pendiriannya. Banyak hal yang akhirnya menjadi pertimbangan pak Yai kita , untuk mengembangkan Ma’had ini menjadi lebih berkualitas.
Darus-Sunnah ini bermula dari pengajian yang hanya diikuti oleh tiga orang mahasiswa di ruang tamu rumah KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Ketiga orang itu ialah Ali Nurdin (sekarang Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Institut PTIQ Jakarta), Saifuddin (kini menjadi Penghulu di Brebes Jawa Tengah) dan Khairul Mannan (kini mengajar di Brunei Darussalam). Kegiatan ini berlangsung sejak tahun 1996.

      Melihat semangat belajar mereka yang tinggi itu, KH. Ali Mustafa Yaqub pun merasa terharu dan kemudian berinisiatif untuk mendirikan pesantren yang selain berfungsi sebagai tempat belajar-mengajar, peserta pengajian juga biasa tinggal di pesantren tersebut (nyantri). Alasannya, jika turun hujan atau ada hal-hal lain yang menghalangi aktifitas pengajian, para santri tetap dapat menghadiri pengajian, selain itu beliau juga tidak ingin menyia-nyiakan hasrat mahasiswa yang terus-menerus datang mengaji.

Gayung bersambut, secara kebetulan di belakang rumah beliau terdapat sepetak tanah. Sebagai langkah awal, lokasi tersebut bisa dijadikan bangunan asrama santri. Sempit memang, sehingga bangunan ini terkesan seperti kost-an. Meski demikian, orang-orang yang berminat menjadi santri beliau kian membludak. Suatu ketika, di tengah usaha beliau membangun asrama itu, seorang kiai dari Kaliwungu Jawa Tengah, KH. Dimyati Rais, berkunjung ke rumah beliau. Kiai Dimyati mengatakan kepada beliau bahwa tanah yang ada di sebelah rumah beliau ini, kelak akan menjadi pesantren sekaligus asrama putra. Sementara asrama yang sedang dibangun di belakang rumah adalah khusus untuk santri putri. Tentu saja ucapan Kiai Dimyati yang merupakan doa tersebut, diamini oleh beliau meskipun sebenarnya tanah yang ada di sebelah rumah beliau bukan miliknya, sikap optimis KH. Ali Mustafa Yaqub ini membuat menteri Agama waktu itu, Bapak Tarmizi Taher, tertarik membantu mewujudkan keinginan beliau.

Melihat kepandaian ketiga mahasiswa tersebut, khususnya dalam bidang Hadis, sekelompok mahasiswa mulai berdatangan mengikuti pengajian tersebut, dan menyatakan minatanya untuk mengaji bersama. Keinginan mereka itupun akhirnya mendapat sambutan hangat, dan pada saat itu juga mereka secara resmi mengikuti pengajian.

Semakin lama, peserta pengajian semakin bertambah banyak. Di satu sisi hal ini menunjukan sebuah kemajuan, namun di sisi lain sebaliknya. Sebab, ruang tamu yang selama ini dijadikan sebagai “kelas” tak mampu lagi menampung mereka. Dan jika tidak segera ditangani, proses pengajian tersebut akan tersendat. Namun ini masih bisa diatasi, karena masih ada ruang keluarga yang kapasitasnya lebih besar disbanding ruang tamu.

Keputusan mengalihkan lokasi ke masjid ini dirasa cukup tepat sebab tak lama kemudian peserta pengajian bertambah lagi menjadi 40 orang. Dan lebih mengesankan lagi, jumlah tersebut bukanlah sekedar kuantitas belaka. Komitmen dan semangat belajar para peserta pengajian pun cukup besar. Hal ini dbuktikan dengan ketika Jakarta dilanda hujan lebat yang nyaris menyebabkan banjir tahun 1997 lalu, semua peserta pengajian tetap hadir meski rumah mereka jauh dengan tempat pengajian itu.

Adapun sistem perkuliahan di Perguruan Tinggi yang dipakai adalah sistem diskusi, yaitu santri medapat tugas dari guru untuk mendiskusikan berbagai permasalahan bersama temannya.
Sampai saat ini , para Santri Darus sunnah pun kian bertambah. System perkuliahan atau pembelajaran disini pun kian meningkat. Semua dilakukan dengan tujuan agar dapat mencetak para santri yang paham betul dengan Ilmu-ilmu Agama khususnya yaitu Ilmu Hadits.

Semoga , apa yang Pak Yai niatkan dalam membangun pesantren ini. Senantiasa Allah beri keridhoan dan kemudahan di segala hal dalam memajukannya. Aamiin.

Peta Darus Sunnah