Ayahanda Kiai Ali Mustafa Yaqub;

Sebelum memasuki pembahasan inti dari catatan kecil ini, ada satu hal yang perlu kami sampaikan selaku santri beliau. Bahwa beliau sangat menganggap para santrinya sebagai anak kandungnya sendiri. Anggapan ini dapat dilihat dari perkataan yang sering sekali diulang-ulang oleh beliau ketika mengajar kitab Shahihain (Bukhari-Muslim) dan/atau dalam acara-acara tertentu semisal pelantikan kepengurusan. “Ayuhat thalabah, ana abukum wa antum abnai. Wal umm ummukum. U’amilukum mu’amalatal abi ma’a waladihi.” (wahai para santri, Saya adalah bapak kalian, dan kalian merupakan anak saya. Serta Ibu adalah ibu kalian. Saya memperlakukan kalian layaknya hubungan seorang ayah dengan anak kandungnya). Begitulah perkataan beliau yang sering diucapkan di depan para santrinya.

Anggapan ini makin diperkuat dengan sikap beliau kepada para santrinya. Dalam kesehariannya, beliau tidak pernah bosan mengingatkan para santrinya ketika salah. Baik kesalahan itu dalam ranah keilmuan ataupun ranah etika sosial. Meskipun para santrinya sering mengulangi kesalahannya, namun beliau tidak pernah surut untuk menegurnya. Cara menegurnya pun seperti halnya seorang ayah kandung kepada anaknya sendiri; memarahi dan bentak-bentak dengan maksud mendidik. Namun para santrinya tidak pernah merasa kesal diperlakukan seperti itu. Justru sikap seperti itu menunjukkan sikap sayang dan kepedulian layaknya ayah kepada anaknya.

Oleh karenanya, ketika kami para santrinya ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh beliau, kami merasa layaknya ditinggal ayah kandung sendiri. Sangat sedih dan sangat pilu. Meskipun status beliau sebagai bapak ideologis, namun sikap dan prilaku beliau kepada para santrinya benar-benar seperti seorang ayah kepada anak kandungnya. Sehingga tidak berlebihan kiranya ketika beliau meninggal, kami, para santrinya sangat merasa kehilangan sosok seorang ayah yang tegas namun bersahaja nan syahdu.

Menjungjung Tinggi Konsep al-muhafadzah dan al-akhdzu

Sebagaimana sudah maklum, Pak Yai merupakan sosok yang sangat teguh pendirian, kuat pada prinsip, dan tegas dalam melakukan amr ma’ruf nahi munkar. Ketiga karakter beliau kami yakin sudah diketahui bersama. Bukan hanya oleh kami selaku santrinya, namun oleh masyarakat umum juga.

Hal tersebut dapat kita lihat pada pemikiran-pemikiran beliau selama ini. Beliau sering mengecam suatu oknum yang telah melebihi batas rel yang telah digariskan agama. Mengkritik dengan keras terhadap orang-orang yang suka memonopoli agama. Bahkan, menjustifikasi kekafiran suatu kelompok tertentu yang sudah jelas melanggar hal-hal yang bersifat prinsip dalam agama.

Tentu dalam membabat itu semua beliau menjadikan al-Qur’an-Hadis sebagai rujukan utama, serta manhaj (metode) dan qaul (pendapat) para ulama salaf sebagai penguat argumentasinya. Karena kita sebagai penerus beliau-beliau mau tidak mau berkiblat pada manhaj dan qaul mereka, dengan syarat selama keduaya itu tidak bertentangan dengan sumber utamanya, al-Qur’an dan Hadis.

Namun, beliau, Pak Yai, tidak serta merta menjadikan qaul para ulama salaf sebagai rujukannya. Beliau memfilter qaul-qaul tersebut dengan menyesuaikan kondisi dan kultur Bangsa ini. Karena tidak sedikit dari sekian qaul yang ada yang tidak sesuai dengan situasi masyarakat Indonesia. Jadi beliau begitu selektif dalam mengutip qaul para ulama, baik salaf maupun khalaf, demi mewujudkan cita-cita Islam (maqashid syari’ah) yang dipadukan dengan cita-cita Tanah Air.

Contoh riilnya adalah tentang pakaian Arab yang sering disebut dengan ‘pakaian sunnah Rasulullah Saw’. Seperti memakai surban, jubah, igal, dan lain sebagainya yang merupakan pakaian khas orang Arab. Jika bagi perempuan seperti memakai cadar. Yang kesemuanya itu sunnah dilakukan karena Nabi Saw dan istri-istri Nabi Saw memakai pakaian itu. Pemahaman seperti ini yang oleh Pak Yai perlu diluruskan kembali.

Menurut beliau, kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw harus bisa membedakan mana kebiasaan dan/atau kesukaan Nabi Saw yang termasuk kategori syariat, dan mana yang termasuk kategori budaya. Karena Nabi Saw tidak hanya sekadar seorang utusan Allah Swt yang menyampaikan sebuah risalah. Lebih dari itu beliau merupakan sosok yang tinggal di Arab, yang pasti tidak akan jauh dari sosio-kultur setempat. Seperti cara dan jenis pakaiannya, makanannya, dan hal lain yang berkaitan dengan budaya Arab.

Artinya, jika jenis dan warna pakaian Nabi Muhammad Saw dikatakan sebagai sunnah dalam syariat, maka itu jelas kurang tepat. Karena Nabi Saw memilih pakaian dan warnanya berdasarkan budaya orang Arab. Andaikan Nabi Saw hidup di Indonesia, maka pakaiannya tidak akan jubah atau surban, tapi batik dan sarung. Maka kita sebagai penduduk Indonesia sunnahnya memakai batik dan sarung. Karena menyesuaikan dengan budaya setempat. Ini kemudian oleh Pak Yai disebut dengan “budaya dibungkus dengan agama.”

Sama halnya juga seperti persoalan mengaji al-Qur’an menggunakan langgam Jawa. Menurut Pak Yai, selama itu tidak menyalahi aturan dasar ilmu Tajwid, maka hal tersebut boleh-boleh saja. Mengaji al-Qur’an dengan lagu/langgam apa pun boleh, dengan tujuan tidak untuk main-main dan menyalahi aturan yang ada. Langgam termasuk suatu kultur yang tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Dan agama tidak selalu melarang hal tersebut, selama tidak berlawanan dengan dasar-dasar keagamaan.

Kedua contoh pemikiran Pak Yai di atas, jika ditelusuri lebih jauh ternyata selaras dengan aforisma pesantren yang sudah familiar:

“المُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَاْلأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ اْلأَصْلَاحِ”

Pak Yai tidak menghilangkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Bahkan beliau melestarikannya dengan mensinergikan dengan nilai-nilai agama. Substansi yang terdapat di dalam budaya dan agama dipadukan, dilebur menjadi satu untuk melanjutkan warisan dari para leluhur Bangsa, dan mengamalkan ajaran agama sebagai bentuk ketaatan terhadapnya.

Berjiwa Humoris dan Luwes

Sebagaimana telah diketahui bersama, di balik ketagasan dan kekerasan beliau, terdapat jiwa humor yang selalu membuat ngakak para pendengarnya. Baik ketika berdakwah, menjadi narasumber, ataupun mengajar tak jarang para hadirin dan santrinya ketawa mengdengar lelucon beliau. Cara dan gaya bercandanya sangat unik; dengan memasang ekspresi muka serius, tapi materi yang disampaikan penuh dengan lelucon. Sehingga meski paras wajahnya serius, tapi para pendengarnya tetap antusias menyimak.

Demikian pula ketika mengaji dengan beliau di pesantren. Kami, para santrinya, sangat jarang melihat wajah beliau tersenyum. Lebih sering memasang ekspresi muka serius. Kendati demikian, karena di dalam jiwa belia telah tertanam humor, maka tak jarang di sela-sela pengajian pecah oleh ketawa para santri. Terlebih ketika beliau ‘ngerjain’ santrinya di depan santri yang lain. Dan biasanya di saat inilah beliau tersenyum. Bukan bermaksud untuk membuatnya malu, namun hal itu sebagai bentuk kedekatan beliau dengan santri-santrinya, petanda keakraban beliau dengan murid-muridnya.

Di sisi lain, beliau merupakan sosok yang memiliki karakter fleksibel (luwes). Beliau mampu berinteraksi dengan siapa pun dan di mana pun. Mulai dari golongan masyarakat paling bawah, menengah, hingga paling atas semisal konglomerat dan pejabat pemerintah. Dengan gayanya yang khas; santai dalam berbicara dan sopan dalam beretika, menjadikan beliau diterima oleh semua kalangan. Baik tataran akademis dan intelektual, maupun tataran masyarakat awam; kesemuanya merasa bangga dan senang berinteraksi dengan beliau.

Lebih dari itu, jabatan yang dimandatkan kepada beliau tidak menjadi penghalang antara beliau dengan kaum bawah dalam berinteraksi. Beliau tetap melakukn rutinitasnya sebagai seorang figur tokoh masyarakat; melayani, membina, dan meluruskan hal-hal yang tidak benar sesuai agama.

Oleh karena itu, ketika beliau meninggalkan kami semua, baik para santrinya maupun masyarakat secara umum, kami benar-benar merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Jika para santrinya merasa kehilangan layaknya seorang ayah kandung sendiri, sedangkan masyarakat secara umum –termasuk Bangsa ini, kehilangan sosok ulama tegas, ahli Hadis, dan konsisten terhadap komitmen sebagai pembela ahlus sunnah wal jamaah.

Selamat jalan Pak Yai, kini njenengan telah bisa bertemu dengan kekasih njenengan yang sering disebut-sebut ketika pengajian. Doakan kami Pak Yai, agar kami di sini mampu melanjutkan jejak njenengan, semoga.

 

Syarofuddin Firdaus;

Mahasantri Darus-Sunnah

Leave a Reply