Minggu (01/05/16). Refleksi mengenai sosok Kyai ‘Ali Mustafa Ya’qub masih berlanjut. Kali ini  Ust. Taufik, tangankanan Pak Kiai Mustafa di IPIM (Ikatan Persatuan Imam Masjid Indonesia), berkisah,

“Kesan awal Saya bertemu dengan Pak Kiai ialah bahwa beliau seorang yang tegas dan jarang senyum. Kendati demikian, sedari awal wajahnya sudah mencerminkan kesejukan.

Lebih jauh mengenal, ternyata beliau juga seorang humoris.

Suatu saat beliau berkata kepada Saya, “Hayuk, kita gabung ke ISIS!” “Ikatan Suami Istri Satu!” derai tawa berlompatan tak lama kemudian.

Tidak hanya masalah ajakan bergabung ke ISIS, suatu saat beliau berkata kepada Saya, “Hati-hati dengan cinta. Cinta itu membutakan,” pesannya, dibubuhi canda.

Menurut Saya, Pak Kiai Mustafa, memiliki beberapa keistimewaan.

  1. Tegas dalam membuat keputusan. Jika sesuatu menurutnya haq maka akan beliau katakan haq, jika batil, maka terang-terangan beliau akan mengatakannya batil.
  2. Displin soal waktu. Menghadiri pertemuan dengan tepat waktu adalah rambu yang selalu beliau galakkan dalam hidupnya. Terlambat menghadiri suatu aktivitas merupakan aib dalam prinsipnya. Pernah sekali Saya disuruh datang ke rumah beliau bakda Maghrib, namun nahas, bakda Isya Saya baru tiba. Sewaktu tiba, Pak Kiai langsung menasihati Saya agar disiplin soal waktu dalam hal apapun.
  3. Berakhlaq mulia. Beliau, kalau bosan dengan kehadiran tamu, atau hendak ada aktivitas di luar, maka tidak lantas ‘mengusir’ tamunya. Cara menegur beliau adalah dengan menguap beberapa kali, agar tamu sadar bahwa beliau sedang dikejar kesibukan lain. Dan, lazimnya, tamu paham kode yang beliau sampaikan.

Menjelang hari wafat beliau (28/04), Rabu sore, 27 April 2016, pukul 15.03-15.20, Pak Kiai sempat menelpon, meski sambil ditemani batuk dan flu, kepada Pak Taufiq dan berpesan beberapa hal soal IPIM :

  1. Agar seluruh Imam Masjid di Indonesia jangan pernah menciderai kepercayaan siapapun.
  2. Agar seluruh Imam Masjid di Indonesia menjaga kepercayaan umat dengan cara melayani mereka karena Allah. In Tanshurullah Yanshurkum. Jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolongmu.
  3. Ingatkan kepada semua anggota IPIM agar terus bergerak di bidang dakwah. Termasuk dakwah tulisan. Wala Tamutunna Illa Wa Antum Katibun!

Kepada orang-orang yang tidak memiliki dasar pengetahuan hadis, beliau, jika hendak menyampaikan sesuatu, tidak menyebutkan teks hadis yang ingin disampaikan, melainkan langsung menyebut intisari ajarannya. Pemahaman yang benarlah yang hendak dikedepankan. Dalam hal ini beliau benar-benar menguasai konteks lawan bicara.

Diantara indahnya etika beliau yakni jika hendak mengadakan perjanjian dengan seseorang maka beliau akan berkata “Insya Allah.” Bukti pengakuan beliau akan kuasa Allah dalam mengatur rencana hamba-Nya. Berbeda dengan kebanyakan orang saat ini, ketika beliau mengatakan demikian, itu artinya beliau akan serius memenuhi janji tersebut.

Pak Taufiq kerap diajak makan bersama Pak Kiai sambil membicarakan beberapa hal. Beliau makan sebagaimana ungkapan bijak berkata, “Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang!” tidak sebagaimana kebanyakan orang sekarang, “Makan Kelaparan Berhenti Kekenyangan!”

Masjid Munirah Salamah, Ahad, 01 Mei 2016

[/red]