Ojo ngerasani Gusti Allah

(Jangan mengumpat Allah)

Tiba-tiba saja sesosok berwibawa dengan kopyah putih bulat dan pakain putih bersih serta wajah cemerlang bercahaya datang, melabrak kesunyian malamku. Sosok itu pun sudah duduk dengan ditemani teh pekalongan dalam cangkir kaca dengan ukiran coklat yang cantik bersanding dengan tisu merk “Paseo” di atas pilar kursi kayu yg dibalut spon warna krem . Aku pun mulai sadar siapa sosok itu. Ya ya Kyai-ku

Tiba-tiba
“Ojo ngerasani gusti pangeran ndu !”, Kata sang kyai membuka obrolan.

Dengan kaget akupun mencoba mengungkapkan rasa ingin tahu

“Ngerasani Gusti Allah niku maksude opo yayi?” (Menggunjingkan Allah itu maksudnya bagaimana Kyai?)”, Tanyaku pelan

“Sampeyan iku jangan pernah merasa berat apalagi hanya atas beban yg sa’jane ringan, kabar duka dan kesedihan yang sebenere kebahagian ketemu kekasih agung yang di damba karo wong apik lan sholih” (Jangan pernah merasa berat terlebih hanya pada permasalahan sepele, kabar duka dan kesedihan yang sebetulnya merupakan kebahagiaan dengan bertemu kekasih mulia yang diingnkan oleh orang baik dan shaleh)

“Kulo Boten faham maksud panjenengan Kyai” (Saya tidak mengerti maksud Kyai?)”

“Kesadaran akan amanah itu engkau patri sejak pertama kali engkau menyaksikan Allah sebagai Tuhan.

Kapan niku? (Kapan itu?) ,Tanya ku penasaran.

Ya di zaman azali dulu, tapi mesti sampeyan nda ingat toh? (tapi masti tidak ingat kan?) Karena banyak lupa-lah manusia disebut insan-naas alias pelupa! Maka Allah swt. menurunkan al-Quran sebagai guidence, petunjuk, lalu Allah mengilhamkan pendengaran, penglihatan dan hati (aqal) kepada manusia utk berfikir. Semuanya berjalan berkelindan dengan syari’at sebagai rambu-rambu yang menerangi”

“Bila sampeyan mengumpat keputusan-Nya, muring-muring dalam kesempitanmu, dan luwih-luwih gak terimo dengan takdire Pengeran kang moho Mulio, misuh-misuh dalam kemelaratanmu, nda legowo atas ketetapan yang tengah terjadi saat ini, Iku podo wae sampeyan iku ngerasani Gusti Allah” (Kalau kamu mengumpat keputusan-Nya, tidak sabar dengan kesusahanmu, dan terlebih tidak menerima dengan takdir Tuhan yang maha Mulia, memaki kemiskinanmu, tidak terima atas ketetapan yang telah terjadi saat ini, itu sama saja kamu mengumpat Allah)

“Saiki waktune nduuu, lepas semua kepemilikan dirimu, rasa bahwa engkau ada, kamu itu nda ada, kamu itu diadakan, Gusti Allah niku Wujud, sampeyan iku maujuud. Urip iku wes di pesti. Umur juga sudah di tetapkan. Ihwal batini yang menjadi penghalang antara dirimu dan diri-Nya adalah “rasa ada-mu” itu! (Sekarang sudah waktunya nak, lepaskan semua rasa kepemilikan dirimu, rasa bahwa kamu ada, karena kamu itu diadakan bukan ada. Allah itu wujud, sedangkan kamu diwujudkan. Hidup itu udah punya kepastian, umur juga sudah ditetapkan. Hal – hal batin yang menjadi penghalang antara dirimu dan Allah adalah rasa “ada-mu” itu !)

Dalam keheningan itu terdengar ….

“Kehilangan sosok penuntun sebagai ayah sekaligus guru memang berat,namun ikhlas dan sabar adalah hal yg sepatutnya di lakukan.”

Samping menepuk pundakku ada yg menasihatiku:

“Ojo lali selalu mendoakan Kiyaimu lan ngamalaken ajaran ugi pesan-pesan beliau selama serawungan ta’lim,halaqoh fajriah lan majelis ilmu bareng beliau.” (Jangan lupa untuk selalu mendoakan Kyaimu dan mengamalkan ajaran serta pesan-pesannya selama belajar bersamanya, halaqah fajriah, dan majelis ilmu

“Ngertio le…,” (Ketahuialah nak…), Kyai melanjutkan nasehatnya
“Asy-syu’ur annaka wujud, perasaan kamu itu “ada” akan menghantarkanmu pada penyakit “ananiyyah” dan semakin kronis pada stadium akhir “inniniyyah”.

“Membumilah nduuu, engkau tidak dibekali sayap, lalu mengapa hendak terbang mengangkasa???”

Aku terlena mendapati pengetahuan baru ini,ketika terbangun mataku menatap pilar taman berumput hijau segar seolah begitu senang medoakan kyai yang aku temui barusan,aku tidak mendapati sosok beliau kini kecuali hanya menyisakan batu besarnya, sang kyai tak lagi nampak dalam pandanganku, hanya tinggal suara kata yang kudengar 3 hari lalu, begitu terbayang lembutnya saja… Di pagi setelah jama’ah subuh,,,Ya lembut di telingaku…

๑۞๑°•..Madza Qultu aanifan (ماذا قلتُه آنِفًا).•°๑۞๑

Aku seperti terbayang pagi selasa 26 April kemarin itu kembali lagi menyusuri petuah-petuah sang Nabi melalui shohih Bukhari-Muslim dengan beliau.

Oh, Ayah, Guru juga Kyai Panutanku…Allah begitu mencintaimu…Allahu yuhibbuk wa yaghfiruk wa yarkhamuk…

 

El-Falasyi

Mim
01.00 am

29/04/2016