“Habis mustahsan terbitlah istijmam”, meminjam judul kumpulan surat R.A Kartini yang dibukukan oleh J.H Abendanon dengan judul “Door Duisternis Tot Litch” (Habis Gelap Terbitlah Terang). Peminjaman istilah ini merupakan bentuk peringatan Hari Pahlawan 10 November yang dipelintir guna menyesuaikan dengan situasi Darus-Sunnah saat ini.

Istijmam sendiri secara bahasa berasal dari bahasa Arab استجمّ – يستجمّ – استجماما  yang berarti “rekreasi, kesenangan, keriangan”. Untuk konteks Darus-Sunnah, nomenklatur istijmam digunakan untuk mendefinisikan rekreasi mahasantri setelah menjalani dirasah selama empat belas liqa’ plus munadzdzamah –yang dikonsep dengan bingkai kegiatan setahun sekali bernama  mustahsan-. Aneh bukan? Saya juga baru mendengar istilah tersebut setelah menjadi mahasantri di sini. Tepatnya satu tahun silam tatkala dinobatkan sebagai mahasantri baru, dengan ditandai berbai’at kepada Almarhum Almaghfurlah Pak Kyai dalam prosesi perkenalan mahasantri baru.

Tentu, itu semua buah keisengan saya belaka. Dan saya rela kalau memang temuan definitif yang dihasilkan dari proses panjang ini dijadikan rujukan sekaligus dicantumkan dalam takhrij kakak-kakak Avicenna, meskipun tanpa mencantumkan sumbernya (tapi saya yakin ini mustahil). Saya ikhlas.

Pada waktu itu, ketika Almarhum Almaghfurlah Pak Kyai memberikan sambutan, beliau menjelaskan trilogi pesantren Darus-Sunnah; Dirasah, disusul Munadzamah, kemudian Istijmam. Dirasah sendiri telah dilaksanakan sejak tanggal 17 Feberuari s.d. 03 November 2016. Kemudian diakhiri dengan ujian dimulai tanggal 05 November sampai selesai.

Untuk munadzamah silakan baca di sini

Setelah usai keduanya, tibalah Istijmam sebagai relaksasi dan penghilang jenuh dari berbagai kegiatan pesantren selama satu semester. Walaupun pada kenyataannya, setelah Istijmam masih dinanti program udrus guna mengisi waktu kosong mahasantri selama hari libur pesantren.

Berdasarkan hasil putusan bersama, destinasi Istijmam kali ini telah disepakati oleh (sebagian besar) mahasatri, baik putra maupun putri. Di hari pertama, mahasantri akan diajak ke Masjid Al-Irsyad yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung, sembari menyantap masakan asli Bandung. Masjid hasil rancangan Ridwan Kamil itu menyajikan bangunan yang unik, eksotis, dan megah. Selanjutnya,  Tahura Juanda menjadi destinasi kedua yang beraviliasi di kawasan yang sangat cocok untuk dijadikan kesempatan merelaksasi pikiran dari kepenatan kehidupan ibu kota dan kelelahan fisik yang terkuras habis karena waktu perjalanan yang cukup melelahkan. Pada malam harinya, mahasantri dipersilakan beristirahat di Villa Joglo yang berada di daerah Lembang, sambil menikmati malam puncak Istijmam 2016. Di sana, akan diisi dengan beragam rangkaian acara. Mulai dari perkenalan dan penampilan masing-masing angkatan, pembacaan pemenang nominasi, dan masih banyak keseruan lainnya.

Pada hari kedua, peserta akan disuguhkan pemandangan alam Grafika Cikole yang kemudian disusul farm house yang menyajikan miniatur pemandangan alam pedesaan sekaligus menggambarkan sekilas kesan salah satu nuansa kehidupan di pedalaman Eropa. Dan untuk menikmati seluruh  destinasi tersebut, mahasantri hanya dikenakan biaya sebesar Rp. 200.000,00-, sangat murah bukan?

Sejauh ini saya menilai Istijmam sebagai program yang sangat visioner dan futuristik. Bayangkan, jika Istijmam tidak ada, maka akan timbul kejenuhan massal, dari kejenuhan massal bisa menimbulkan depresi massal. Jika dalam satu atap hidup sekumpulan orang yang didiagnosa depresi, maka kekacauan pun tak bisa terhindarkan. So, what about you? What else you wait for paying istijmam?

Saya yakin Istijmam akan berjalan dengan lancar, meriah, dan sukses, dan semua itu bisa terwujud dengan hubungan multilateral yang baik antar angkatan, dukungan dari musyrif dan asatidz, serta do’a restu dari khadim ma’had. Amin.

Wallahu-l-musta’an ‘ala ma tashifun

Zainal Hamdi

Mahasantri Darus-Sunnah Semester 3

Leave a Reply