Minggu (01/05/16) Tiga hari sudah guru terkasih pergi meninggalkan sanak saudara, santri, dan semua umat muslim. Namun, ada hal yang tidak akan pernah pergi yaitu kenangan bersama beliau yang selalu akan terpatri dalam diri setiap orang.

Dalam rangka mendoakan Pak Kyai, santri dan warga sekitar pesantren mengadakan doa bersama yang diisi dengan membaca al-Qur’an, yasiin, dan tahlil. Pada setiap akhir acara akan diisi penyampaian kisah, kenangan, serta kesan yang didapatkan oleh para alumni mengenai sosok Pak Kyai.

Kali ini, acara dipandu oleh mahasantri semester II, Muhammad Fadlil Hidayat. Sedangkan tahlil dipimpin oleh mahasantri semester VIII, Badrut Tamam Al-Hafidz. Acara doa diakhiri dengan doa yang diimami oleh dua orang secara bergantian, K. Rahmadin Afif dan Ustadz al-Razi Hasyim selaku Dosen Darus Sunnah Institute.

Penyampaian kesan malam ini diisi oleh dua orang alumni, Dr. Syarif Hidyatullah dan Dr. Nurul Huda Ma’arif. Keduanya merupakan alumni yang saat ini sudah sukses dibidangnya masing-masing. Banyak kisah yang diceritakannya mengenai sosok Pak Kyai. Mengawali ceritanya, Dr. Syarif mengingat tentang bagaimana dulu dapat diterima di Darus Sunnah setelah di tes secara langsung oleh Pak Kyai.

Banyak hal yang sangat berkesan yang dialami oleh Dr. Syarif, tentang bagaimana Pak Kyai yang sangat memperjuangkan santri-santrinya dengan ikhlas, tentang keikhlasan Pak Kyai dalam mengajarkan ilmu-nya kepada para santri, tentang semangat Pak Kyai dalam mendorong santrinya untuk selalu mengembangkan dirinya.

Dr. Syarif mengisahkan ketika pertama kalinya mendapatkan telepon dari media Republika, yang tentu saja baginya merupakan hal yang mengejutkan karena saat itu dia masih belum apa-apa. Hingga kemudian, diketahui bahwa nomor yang didapatkan oleh Republika itu berasal dari Pak Kyai. Begitulah sosok Pak Kyai yang selalu membanggakan santriya dan menyebutnya dimana-dimana.

Hal yang kemudian membuat semangat Dr. Syarif adalah Pak Kyai selalu beraktifitas dengan mengetik tulisannya dan paginya tetap mengisi pengajian. Tidak pernah ada kata libur, kenangnya. Inilah yang membuatnya ingin mencontoh Pak Kyai.

Karomah

Pak Kyai, saat wafatnya membuat orang di seluruh tanah air merasa kehilangan. Ratusan karangan bunga memenuhi pelataran rumah dan pondok. Hal ini, menurut Dr. Syarif adalah karena keikhlasan beliau dalam berdakwah. Pak Kyai, tidak pernah meminta bayaran dalam dakwahnya, bahkan dikatakan kalau-pun tidak dibayar pasti akan tetap datang. Pak Kyai, tidak gila dunia, tidak gila uang, tidak gila jabatan.

Karomah Pak Kyai terbukti dari mustajab-nya aamiin-nya beliau. Dr. Syarif mengenang bahwa dulu santri ditanya mengenai cita-citanya. Setiap santri menyebutkan apa yang ingin dicapai dimasa depan dan langsung diamini oleh Pak Kyai. Ada yang ingin kuliah ke luar negeri, ada yang ingin menjadi penulis seperti Pak Kyai. Nyatalah, pada kemudian hari semua cita-cita santri yang dulu diamini oleh Pak Kyai menjadi nyata. Saat ini santrinya sukses, ada yang menjadi penulis, ada yang kuliah di Belanda, ada yang bolak – balik Amerika Indonesia dalam tugasnya, dan lain sebagainya.

 

Pak Kyai Memang Tidak Mengenal Teknologi

Demikian Dr. Nurul Huda Maarif menuturkan. Akan tetapi karena itulah, Pak Kyai terbebaskan dari kebiasaan buruk yang saat ini dilakukan oleh sebagian pelajar dan mahasiswa. Ketidaktahuan Pak Kyai mengenai google menghindarkan beliau dari kebiasaan buruk Copy Paste. Pak Kyai mengatakan, “Guru saya Kyai, Kitab”, bukan google dsb.

Pak Kyai, memiliki kebiasaan menulis buku diari. Hanya saja, diari beliau tidak seperti orang pada umumnya. Diari yang ditulis Pak Kyai adalah diari ilmiah yang berbobot dan bernilai, sehingga banyak dari catatan perjalan beliau yang menjadi buku dan bermanfaat untuk umat.

Karena itulah, selepas kepergian beliau, seluruh umat berduka. Para ulama, presiden, menteri-menteri, tokoh-tokoh nasional dan daerah, pimpinan perusahaan, teman-teman media, santri, alumni, sanak keluarga, masyarakat semuanya mengungkan perasaan kehilangan sosok utama dalam bidang hadis di Indonesia. Allahummaghfirlahu

for Web3
Dr. Nurul Huda Maarif dan Dr. Syarif
for Web2
Badrut Tamam, Mahasantri Semster VIII sedang Memimpin Tahlil

 

 

 

 

 

 

[/red]