DarusSunnah.id – Dikarenakan situasi yang masih belum kondusif akibat wabah covid-19, banyak orang yang memutuskan untuk tidak mudik ke kampung halaman pada kesempatan lebaran tahun ini. Begitu pula warga Darus-Sunnah, baik asatidz, musyrif, pegawai, maupun mahasantri dan mahasantriwati.

Kendati demikian, mereka tetap dapat menikmati nuasa hari raya dengan penuh kebersamaaan. Salah satunya melalui pembacaan hadis-hadis seputar idulfitri yang dilaksakan hari Ahad (24/05).

Hadis-hadis yang dibaca merupakan hadis tematik dari beberapa bab yang termuat dalam kutub as-sittah. Dimulai dengan Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai dan diakhiri Sunan Ibn Majah.

Dimulai selepas zuhur, para ustadz dan mahasantri saling bergantian dalam membaca. Yang satu membaca, yang lain ikut menyimak. Setiap dibacakan qala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, spontan gemuruh hadirin melafalkan shalawat. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaih.

Ustadz Ahmad Ubaidi Hasbillah, MA.Hum. memaparkan dari beberapa model pembacaan hadis, yang dipakai dalam kegiatan tersebut merupakan pembacaan hadis secara sardan. Yaitu model pembacaan hadis secara cepat tanpa penjelasan. Tidak sebagaimana tradisi halaqah fajriyah yang umumnya menggunakan metode im’an, detail disertai penjelasan tiap kalimat dan juga perawinya.

Membaca hadis-hadis sesuai dengan konteksnya akan lebih terasa dan mengena ketimbang membacanya diluar keadaan atau konteks hadis tersebut. Sebagaimana hadis-hadis pernikahan dibacakan saat penganitenan. Beda halnya jika hadis yang dibaca saat itu ialah hadis tentang kematian. Sambungnya. (sm)