Category: Pojok Santri

Pojok Santri

Generasi Terakhir 

Kamis 28 April 2016. Malam Jum’at tepatnya. Yang seharusnya malam ini adalah latihan wisuda ke-5 bersama pak Kyai karena ayahanda kami wafat maka latihan pun batal. Yang seharusnya Wisuda Darus Sunnah ke-14 bisa dihadiri oleh pak Kyai, karena ayahanda kami wafat mau ta mau wisuda…

Pojok Santri

Ayah, Selamat Jalan 

Yang tercinta, ayahanda Prof. Dr. KH Ali Musthafa Ya’qub, MA Ciputat, Rabu 27 April 2016 Rabu itu aku masih menatap wajahnya, wajah dari sosok yang begitu aku kagumi. Seperti biasa, beliau berdiri di shaf paling depan di waktu Dzhuhur itu, mengimami shalat jama’ah, suaranya lantang…

Pojok Santri

Mimpi itu Seakan Nyata 

Ojo ngerasani Gusti Allah (Jangan mengumpat Allah) Tiba-tiba saja sesosok berwibawa dengan kopyah putih bulat dan pakain putih bersih serta wajah cemerlang bercahaya datang, melabrak kesunyian malamku. Sosok itu pun sudah duduk dengan ditemani teh pekalongan dalam cangkir kaca dengan ukiran coklat yang cantik bersanding…

Pojok Santri

Kami Masih, dan Akan Selalu Mengingatmu 

“Pak Kiayi” itulah sapaan akrab beliau dikalangan para santrinya, hari kamis tanggal 28-April-2016 pukul 6:30, tepatnya setelah halaqoh kajian Hadist beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sungguh kami merasa terkejut dan rasanya sulit untuk dipercaya, ketika kami mendengar kabar dari salah satu senior, sambil keliling asrama…

Pojok Santri

Optimisme Darus Sunnah 

Surat Cinta Untuk Santri/Mahasantri Darus-Sunnah Mengapa Darus-Sunnah harus tetap optimis? Mengapa kita tak boleh larut dalam kesedihan? Mengapa kita tak boleh putus asa? Karena Kiai sudah mewariskan sifat-sifatnya pada penerusnya; Kepada Kiai Andi Rahman, Kiai mewariskan ketawaddu’an dan ketekunan ibadah seorang muhaddis. Senyum yang menawan…

Pojok Santri

Sajak Santri untuk Kyai 

Surat Cinta Untuk; Ayahanda Kiai Ali Mustafa Yaqub Bagaimana Kiai? Sudahkah kau bertemu Kiai Idris Kamali gurumu? Kiai Abdurrahman Wahid? Kiai Hasyim Asyari? Tak kubayangkan betapa lebar senyummu Kiai, kembali berkumpul, menenun kembali liqa’-liqa pertemuan bersama mereka. Di sini kami masih saja menangis Kiai. Entah…