Untuk Darus-Sunnah yang Bersih, Rapi dan Indah

Published by Darus Sunnah on

Umpama suatu perkara mau diklasifikasi menjadi dua dengan teori mungkar dan makruf, maka suatu perkara itu hanya ada dua macam, kalau ga makruf, ya mungkar.


menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya tidak pada waktunya” itu termasuk mana? Teman-teman lebih paham soal itu. Ya… Itu mungkar lah…


Kemudian ada hadis
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ “.
(حديث صحيح رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)


kalau melihat kemungkaran, ubahlah (tanganilah) kemungkaran itu dengan tangan. Umpama dengan tangan tidak bisa, ubahlah (usahakan) dengan lisan. Kalau juga tidak bisa, maka ubahlah (carikan solusi) dengan hati (renungkan dan pikirkan).
Tapi, sek sek sek jangan kesusu dulu. Hehe.


Ada teori yang bisa diambil dari hadis ini, yaitu: bahwa kemungkaran itu ada yang cara ngubahnya dengan tangan (perbuatan), ada yang dengan lisan (komunikasi), ada yang dengan hati (sabar dan pikirkan matang-matang).
Rincian mana kemungkaran yang harus diubah dengan tangan, mana yang harus diubah dengan lisan, dan mana yang dengan hati, rincian itu akan sangat banyak, teman-teman bisa analisis sendiri. Hehe.


Namun, Agar bisa tergambarkan, mungkin ada beberapa contoh.
Pertama, kemungkaran yang bisa diubah (diselesaikan) dengan tangan adalah kemungkaran yang teman-teman kuasa atasnya.
Contohnya sampah, umpama ada sampah yang tidak berada di tempat sampah, maka teman-teman bisa langsung menaruh sampah tadi di tempat sampah menggunakan tangan sendiri.


Kedua, kemungkaran yang bisa diubah (diusahakan) dengan lisan adalah kemungkaran yang teman-teman tidak punya kuasa atasnya, hanya saja teman-teman bisa “bersuara” tentangnya.
Contohnya barang-barang milik orang lain yang tergeletak tidak pada tempatnya tidak pada waktunya, teman-teman bisa informasikan kepada yang bersangkutan menggunakan lisan sendiri.


Ketiga, kemungkaran yang bisa diubah dengan hati (setidaknya) adalah kemungkaran yang teman-teman tidak punya kuasa, bahkan dengan lisan pun tak mampu diutarakan.
Contohnya … (apa ya… cari sendiri lah, hehe. Mungkin seperti kasus ifkinya Sayyidah Aisyah yang ia hanya bisa memasrahkan solusi kemungkaran hanya kepada Allah).

Kata seyyed Hossein Nasr,
“in traditional societies, nature was seen as one’s wife. But the modern west turn it into a prostitute.”

Dalam konteks Darus-Sunnah,
“Seharusnya kita memperlakukan lingkungan tempat tinggal kita sebagai istri (yang dicintai sepenuh hati, dirawat dengan ikhlas, dijaga kebersihan, kerapian dan keindahannya). Jangan malah menjadikannya seperti ‘pelacur’ (yang digunakan tanpa tanggung jawab, habis manis sepah dibuang, habis menggunakan ruangan, kebersihan diabaikan).”

Semangat…! untuk Darsun yang Bersih, Rapi dan Indah

Nurul Mashuda


0 Comments

Leave a Reply