Sabtu, 21 April 2018, Achmad Syarif Hidayatullah, alumni ke-12 Darus-Sunnah menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengalami pendarahan di otak. Kabar tersebut langsung menyebar keseluruh warga Darus-Sunnah, ucapan duka dan takziah kepada keluarga pun mulai digelar oleh beberapa kerabat serta sahabat.

Kronologi yang kami dapatkan dari salah satu sumber, bahwa pada Rabu, 17 April, menurut temannya, sesaat setelah bangun tidur Syarief mengeluhkan kepalanya yang terasa pusing, selang beberapa menit ia minum air putih, namun belum beberapa menit terlewat ia langsung muntah dan pingsan tak sadarkan diri. Segera teman kerjanya membawa Syarif menuju RS Tebet, Jakarta Selatan. Menurut keterangan dokter, Syarif mengalami pendarahan pada otaknya, pihak RS segera merujuk Syarif ke RS Koja Jakarta Utara, sampai hari ini Syarif belum sadarkan diri, hasil CT scan dokter pembuluh darah otaknya pecah dan harus segera dioperasi besar.

Setelah kewafatannya, salat jenazah digelar di rumahnya di Jl. Pelita 1 No. 29, Rt. 014/08, Kebayoran lama, Jakarta selatan.

“Syarif adalah sosok yang baik, murah senyum, periang, dan mudah akrab dengan orang” Ujar Ustad Ali Wafa.

Salat gaib untuk Syarif dilaksanakan bakda isya. Divisi keharmonisan IMDAR pun telah menggalang dana, bahkan sebelum kewafatannya.

“Tadinya kami mau menyumbang untuk biaya membeli obat” Ujar salah seorang anggota divisi keharmonisan. Akhirnya dana tersebut digunakan untuk bertakziah kepada keluarga Syarif.

Leave a Reply