Ayahanda Prof. Dr. KH Ali Mustafa Ya’qub, MA

Tulisan ini bukanlah pertama maupun terakhir yang dibuat para santri, alumni, anditaulan, ataupun media. Saya yakin, masih akan ada banyak tulisan yang muncul untuk mengenang jasa Pak Yai. Bukan sekedar jasa, tapi lebih dari kedekatan Pak Yai dengan orang-orang disekitarnya. Benar sekali yang dikatan salah satu alumni  saat perbincangan hangat kemarin malam,”Udah, tidur yuk, gak bakal ada habisnya kalau kita cerita tentang Pak Yai.”

Padahal sebenarnya dia sedang kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh dari rumahnya. Tapi memang benar apa yang dikatakannya, bercerita tentang Pak Yai tak ‘kan ada habisnya!
Satu tetes dari banyaknya air laut pulau Pahawang seluas 1.084 hektar, merupakan analogi yang tidak berlebihan kiranya untuk menggambarkan ilmu yang kami dapat dari keluasan khazanah keilmuaan yang dimiliki Pak Yai. Delapan bulan adalah waktu yang amat singkat untuk sebuah pertemuan dengan orang ‘alim ‘allamah sekaliber beliau. Tak dapat dibayangkan bagaimana sedihnya para sahabat saat ditinggalkan Rasulullah, baik yang dikategorikan sebagai as-sabiquuna al-awwalun, al-mubasysyrina bil jannah, maupun ahlus shuffah, sedangkan kami saja yang ditinggalkan sosok yang sangat mencintai Rasul semenjak tiga hari lalu masih dalam keadaan berkabung.

Badan tegap yang selalu mengiri langkahmu, suara tegas nan lembut, dibalut humor yang selalu Kau sisipkan di sela-sela ketegengan kami; merupakan kenangan terindah yang tidak akan hilang dari memori otak kami. Bahkan salah satu senior pernah menasihati, ”Tertawalah yang kencang saat ada humor dari Pak Yai! Biar keteganganmu ‘sedikit’ berkurang.”

Salah satu musyrif pernah bercerita suatu pengalaman yang sangat menggelitik sehingga dia ingat sampai sekarang. Kurang lebih ceritanya seperti ini: “Kewibaan dan karisma Pak Yai sudah tidak diragukan lagi.” Sang musyrif memulai cerita di tengah permainan futsal pagi itu. “Sampai-sampai”, lanjutnya, “Ada teman saya karena saking groginya ketika dihadapkan dengan lapadz “تقدم ذكره , dia membacanya dengan  “تَقَدَّمَ ذَكَرُهُ”, padahal seharusnya “تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ”.” Pungkasnya sambil tertawa terpingkal-pingkal yang hanya diselingi dua ketukan –dalam nada- untuk melanjutkan ceritanya, diikuti dengan tertawa kami pribadi, yang tentunya tidak mau kalah.

Saya pun sudah membuktikan, ketika dihadapkan dengan lapadz لم أنه , saya mebacanya tanpa perhitungan “لم أَنَّهُ” , karena lafadz itu sering diucapkan ketika alif, nun, dan ha bersambung, yang nanti akan diketahui bahwa yang benar adalah “لم اُنهَ”. Miliaran neuron (saraf) yang terdapat di otak tidak dapat memecah kebuntuan saat ditanya “اي كلمة وما اعرابه هذا؟” (shigat apa dan bagaimana i’rab yang terdapat didalamnya?). Ketika pertanyaan itu sudah dilempar ke rais usrah (ketua kelompok belajar) dan tahu bahwa itu adalah fi’il, barulah otak kami bisa berfungsi kembali untuk memberikan jawaban dengan disertai alasannya.

Pak Yai, saya rindu kasih sayangmu yang Kau konotasikan dengan hentakan waktu itu. Harum tanganmu masih tercium sampai sekarang, dan itulah alasan utama air mata anak laki-laki ini tumpah untuk kesekian kalinya. Ketika memastikan kabar tentang kematian njenengan ke ndalem, lalu wangi itu tercium selintas di ujung hidung ini, seketika itu pula saya sadar bahwa kabar itu memang benar bahwa njenengan telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Maka, itu sekaligus menjadi petanda bahwa pejantan ini tidak akan mencium wewangian itu lagi dengan langsung dari punggung tanganmu.

Ratusan karangan bunga yang terhampar dari mulai ndalem, luar gerbang, sampai pelataran pondok, tak mampu menghilangkan rasa kehilangan ini. Ribuan jamaah yang berziarah pun kiranya tak mengurangi rasa ingin bersua denganmu kembali, Pak Yai.

Kami rindu…..

Pak Yai, mohon sebut nama kami disela-sela perbincanganmu dengan Imam Bukhari, Imam Muslim, dan para shahibus sunan yang sering kau ceritakan pada kami ketika halaqah fajriyah. Sampaikan salam kami kepada baginda Rasulullah Saw yang selalu Kau sebut-sebut keagungannya. Kami yakin, baginda Rasul dan para muallif kutubus sittah menyambut kedatangan Engkau dengan penuh senyum sumringah. Dahimu tak henti-hentinya mengerut karena memikirkan kami, suaramu tak jarang hampir habis saat menasihati kami. Tapi apalah daya kami Pak Yai, yang selalu ingin berada di dekapanmu tapi ternyata Allah Swt lebih merindukanmu.
Pebendaharaan kata yang sangat minim, untuk seseorang yang perfeksionis, sang murabby, ayahanda Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عته

Oleh : Zainal Hamdi
Mahasantri Darus-sunnah

Leave a Reply