Sebagai acara rutinitas, Musyawarah Tahunan Mahasantri (MUSTAHSAN) Darus-Sunnah tahun ini sudah menjalani rentetan acara yang telah disepakati bersama oleh peserta sidang MUSTAHSAN pada awal pertemuan sidang. Kurang lebih satu bulan setengah waktu yang ditempuh untuk menyelesaikan seluruh rentetan rutinitas. Memang, MUSTAHSAN kali ini dapat dicatat sebagai MUSTAHSAN paling cepat dalam sejarahnya. Namun, jika dilihat pembahasan dan antusias para peserta sidang ternyata tidak kalah seru dan ramai ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Dan seperti biasa, dengan digelarnya MUSTAHSAN menjadikan mahasantri semakin sadar akan signifikansi berorganisasi. Evaluasi dan terus membenahi seluruh badan otonom yang ada di Darus-Sunnah merupakan bukti kongkrit akan adanya kesadaran tersebut.

Banyak hal baru yang dihasilkan oleh MUSTAHSAN pada tahun ini, seperti Perpustakaan Ma’had Darus-Sunnah (PMD) mulai tahun ini diberikan kebebasan untuk mengelola sendiri tanpa menunggu komando Ikatan Mahasantri Darus-Sunnah (IMDAR). Artinya, PMD sudah menjadi Badan-Badan Khusus (B2K), yang secara garis struktural setara dengan IMDAR. Demikian juga pembahasan Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) dirubah dengan mengikuti waktu pembahasan AD/ART. Dan lain sebagainya, yang kiranya kedua hal tersebut merupakan hasil yang mencolok pada MUSTAHSAN tahun ini. Kendati demikian, masih banyak hal lainnya yang dihasilkan oleh MUSTAHSAN tahun ini yang lebih bersifat teknis, sehingga tidak perlu disebutkan satu per-satu pada kesempatan kali ini.

Seperti lumrahnya masa, akan digantikan oleh orang-orang setelahnya, yang akan meneruskan perjuangan dan warisan yang telah dititahkan oleh pendahulunya. Demikian juga di organisasi Darus-Sunnah, setelah menjalani seluruh rentetan acara, kini MUSTAHSAN menapaki acara pamungkas, yaitu pelantikan pengurus baru masa bhakti 2016/2017. Acara ini bertujuan untuk mengukuhkan para pengurus baru yang dimandatkan untuk mengelola organisasi Darus-Sunnah, dan bertanggung jawab atas amanah yang akan diterimanya, serta sebagai bentuk pengabdian terhadap pesantren. Melihat tanggung jawab yang akan diemban cukup berat, maka amanah yang akan dimandatkan berdasarkan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki setiap mahasantri.

Oleh karenanya, khadim ma’had, para asatidz, musyrif, dan mahasantri yang sudah tidak memiliki jabatan di seluruh organisasi Darus-Sunnah memercayai kepada generasi selanjutnya akan memajukan dan mengembangkan organisasi Darus-Sunnah. Melihat kompetensi yang dimiliki mahasantri secara umum tidak menutup kemungkinan akan menjadikan organisasi Darus-Sunnah lebih baik ketimbang sebelumnya. Lebih dari itu, secara tidak langsung di tangan mereka lah masa depan Darus-Sunnah. Dengan memperhatikan fungsi setiap organisasi yang ada, Darus-Sunnah telah memiliki segala jenis keorganisasian. Maka, sekarang tinggal para pemangku amanah tersebut untuk menggiring Darus-Sunnah lebih baik dan maju dari sebelumnya.

Maka dari itu, hadirilah acara puncak kegiatan MUSTAHSAN tahun ini. Guna mengetahui para pemangku organisasi Darus-Sunnah, yang akan membawa organisasi Darus-Sunnah lebih baik nan rapi. Ditambah akan adanya inovasi program kerja yang memiliki nilai visioner cukup tinggi, menjadikan Darus-Sunnah semakin optimis untuk lebih maju di masa depan.

Muhammad Syarofuddin Firdaus
Mahasantri Darus Sunnah

Leave a Reply