kepada ayahanda yang tengah berbahagia di alam sana,
alam di mana sebagian kenikmatan dari Tuhan telah kau cecap,
sebelum kenikmatan yang jauh lebih besar akan kau terima lagi di hari pembalasan kelak

terang bulan kian temaram, lampu-lampu taman pesantren saling berpijar, di sebuah pagi yang hening, seseorang membawa kabar mengejutkan: kau telah tiada

ada yang tercekat, melontarkan pertanyaan, tanda tak percaya
ada yang mengucap istirja’ lalu berusaha tabah menerima kenyataan
ada yang mengira jika berita tersebut hanya gurauan (meski tak layak untuk diguraukan)
hingga kabar itu memang tak dapat dielakkan karena benar adanya
kau telah meninggalkan kami sebagai yatim yang masih mengharapkan keberadaanmu

kami boleh saja berduka kehilanganmu, namun kesiapan dirimu untuk menemui sang kekasih yang kau impikan sedari dulu, tentu tak dapat kami halang-halangi. seumpama orang yang sedang dimabuk rindu, kau sebut ia berulang-ulang, kau ceritakan ia berkali-kali, kau sematkan dalam sanubari, tentang kekasihmu yang begitu sangat kau cintai

alangkah berbahagia dirimu kini berhiaskan jubah kemuliaan. alangkah cerah rona wajahmu serupa bias cahaya purnama. alangkah cerianya kau yang akan bertemu kekasih yang selama ini kau rindui segapaian tangan

kami berupaya untuk tidak bersedih, yayi, namun terasa sulit,
airmata kami seolah terus memaksa untuk diperdaya kesedihan yang mendalam
guna mengenang jasa-jasa besarmu selama ini kepada kami juga kepada umat

malam ini, kami masih saja khidmat mendoakanmu
malam ini, secara bergantian kami mendaraskan ayat suci untukmu
malam ini, doa-doa kebaikan tak pernah berhenti kami haturkan bagimu
hingga dinihari pun tiba, dan embun membuat segalanya terasa semakin kelam

masih terembus semerbak aroma wewangian bunga di atas makammu
kepergianmu yang dirasa terlalu cepat, membuat airmata tak henti mengalir
kami selalu mengkhawatirkan hal yang sama satu sama lain:
adakah pengganti yang berbudi luhur dan ikhlas serupa dirimu?

kau telah mengajarkan pada kami banyak hal, terutama urusan ukhrawi
pelajaran yang barang tentu tak banyak kami dapat sebelum-sebelumnya
begitu pun dorongan darimu kepada kami untuk senantiasa berkarya
meski hingga kini, kami belum juga bisa memberikanmu yang terbaik

kami semua di sini sangat mencintaimu, yayi
kami masih butuh banyak bimbinganmu, yayi
kami selalu betah semasa dalam asuhanmu, yayi
kami ingin mendengar lagi dawuh-dawuhmu, yayi

meski akan tiba masanya ketika jarak membatasi ruang dan gerak
tetapi sungguh, kami tak dapat sepenuhnya lepas dari sosok panutan dirimu

kaulah pembimbing ruh kami agar selalu merasa dekat dengan Tuhan dan nabi

Imam Budiman
Santri Pondok Darus Sunnah

Leave a Reply