Pak, banyak hal rasanya yang ingin Ananda sampaikan. Raut wajah Bapak pada terakhir kali jumpa, -terus terang- cukup menyayat hati. Bukan salah Bapak demikian, memang santri mu ini saja yang bengal. Terima kasih atas pengajaran dan kesabaran Bapak yang selama ini. Maaf kan santri badungmu ini, Pak. (Saya boyong duluan).

Dua kali diberdirikan semasa halaqah. Pertama, sebab kamar yang kotor. Kami hafal betul, bagaimana Bapak mendidik kami untuk senantiasa menjaga kebersihan. “Khalif al-Yahud, nazhzhifu”. Begitu sepenggal nasehatmu, bukan?
Merutin-kan tanzhif: harian, mingguan. Mengadakan lomba kebersihan: kamar mandi, kamar tidur. Begitu kami berusaha meng-aplikasikan: cinta kebersihan.
Kedua, sebab Barirah, amatun Li sayyidati ‘Aisyah RA (hamba sahaya milik sayyidah ‘Aisyah RA). Sekadar 5-10 detik rasanya saya terpejam, saat Bapak sedang menerangkan satu hadis dalam Kitab Sohih al-Muslim terkait Ibu Barirah. Namun yaqzhah/tajam-nya mata Bapak, seketika menyoroti dalam pejaman yang sekejap itu. Saya tertangkap basah. Ya, tersangka, tetaplah tersangka.

Pak, saya juga ingat betul pesanan Bapak pada lebaran qurban th 2014 yang lalu. Kepala dan kaki kambing, bukan? Seharian, kami bakar dan bersihkan, kami bakar dan sikati bagian kepala dan kaki kambing, hanya teruntuk Bapak. Karena kami tahu, itu adalah salah satu menu kesukaan Bapak. Terima kasih juga untuk gulai buatan Ibu. Lezat tiada tara.

Pak, amanatmu pada bulan November 2015 lalu. Sebisa mungkin sampai saat ini, semoga kami bisa jalankan. ” wallaytukum ‘ala al-qiyami bi al-amri bi al-ma’ruf wa an-nahyi ‘an al-munkar, wallahu al-muwaffiq”. Meski seringkali mengecewakan, meski sesekali menjengkelkan. Mohon dimaafkan Pak, kami sebisa mungkin mengusahakan.

Dan meski harus dari luar bilik, memandangi kediamanmu. Tapi saya yakin, pemberhentian-ku bukan akhir pemberian kasih sayangmu. Bukan pula berarti berhenti saya meneladani perangaimu.

Pak, sekali lagi, maafkan santri badungmu ini, Pak.

Terima kasih atas pengajaran dan kesabaran yang selama ini, Bapak: Ayahanda KH. Ali Mustafa Yaqub.

Kenangmu senantiasa melekat dalam sanubari.

Allah swt. tempatkan Bapak di sebaik-baik tempat di sisi-Nya; Syurga.

Muhammad Fadlullah

Leave a Reply