Umumnya, masih sering kita jumpai istilah santri atau pesantren yang selalu dikaitkan dengan kata tradisional, jadul, terkungkung serta terisolir dari dunia luar. Hal yang demikian tidak mesti kita salahkan mengingat bagi segelintir orang yang memang sudah mengenal dan memasuki dunia lain dalam pendidikan akan mudah menyimpulkan perbedaan tersebut.

Menjadi santri bukanlah hal yang perlu ditakuti. Pasalnya, banyak orang-orang hebat yang justru lahir dari rahim pesantren. Siapa yang tak kenal Gus Dur, presiden humoris dengan slogan “gitu aja kok repot” nya yang khas itu memiliki darah pesantren tulen.

Perihal label yang diberikan sebagian masyarakat terhadap santri agaknya mindset itulah yang perlu dirubah. Di era yang serba berkemajuan ini selayaknya di manfaatkan oleh para santri agar dapat memompa potensinya sebagai seorang pelajar.

Baca juga:  
https://majalahnabawi.com/ustadz-ali-nurdin-pendidikan-terbaik-ada-di-pesantren/

Sebagai upaya mengarahkan santri agar mampu berdiri mendampingi dunia yang global, pesantren Darus-Sunnah bekerja sama dengan  MSU College Malaysia dan Nuffic Neso Belanda mengadakan kegiatan school visit & dialog interaktif, Senin(17/02).

Kegiatan yang mengusung tema “Wujudkan mimpi, dapatkan beasiswa untuk belajar di luar negeri” tersebut diisi oleh para pemateri lulusan luar negeri. Mereka adalah Ahmad Pitra yang merupakan seorang Dosen dan Country Manager of Global Affairs Department MSU Malaysia, juga Dito Alif Pratama penggagas komunitas santri mengglobal mewakili Nuffic Neso Belanda.

 Bercita-cita kuliah negeri adalah impian banyak orang, apalagi bagi orang yang datang dari daerah terpencil. Sebagaimana yang dikisahkan kak Pitra, agar dapat menyesuaikan iklim pendidikan bersama orang-orang luar itu bukanlah hal yang mudah, banyak rintangan dan cobaan yang mesti ditempuh sehingga seseorang dapat melewatinya dan berada pada level yang lebih tinggi.

Alasan santri perlu belajar ke luar negeri

Dito Alif Pratama saat menyampaikan materi dan pengalamannya di hadapan santri dan Mahasantri Darus-Sunnah

“Iklim pendidikan di luar negeri itu menjanjikan banyak hal, dalam artian kita mendapatkan kesempatan untuk memompa potensi kita lebih besar. Belajar dan menuntut ilmu adalah bagian dari kewajiban kita bagi seorang muslim kapanpun dan dimanapun. Ketika kita belajar, sudah menjadi hal yang penting adalah kita memberikan porsi terbaik untuk diri kita,” papar kak Dito.

Alasan yang kedua adalah pengalaman berharga yang didapatkan semasa belajar di dunia luar. Budaya yang berbeda, bahasa yang tak sama, juga agama yang di percaya akan sangat berbenturan dengan realitas kebiasaan seseorang selama di kampung halamannya. Ia akan memiliki wawasan yang luas mengenai keberagaman yang terjadi di dunia. Hal ini akan membangun karakter orang tersebut lebih bermoderasi dalam menyikapi pelbagai kemajemukan hidup terutama problematika agama. (sm)