Masih dalam rangka kegiatan tahlilan al Maghfurlah Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, para hadirin memadati Masjid Muniroh Salamah, Pesantren Darus-Sunnah. Acara tahlilan hari keenam ini dipimpin oleh Badrut Tamam dan Ahmad Baihaqi, mahasantri semester delapan.

Tausiyah dan sambutan disampaikan oleh KH. Abdul Hamid Faruq, santri angkatan tahun 2001, asal Jember yang berkesempatan hadir.

“Saya sampai hari ini masih terhitung santri dari Pak Ali, karena saya tidak menuntaskan pendidikan di Darus-Sunnah ini sebab suatu hal, jadi belum lulus,” ujar sosok yang mengaku dipanggil dengan Cak Hamid ini. “Sebenarnya saya ini sudah bertekad untuk datang saat momen wisuda Mei nanti, untuk melaporkan segala proses yang telah saya laksanakan sejauh ini. Namun ternyata kabar duka meninggalnya Pak Kyai ini tiba,”.

Disebutkan oleh Cak Hamid perjalanannya selama di Jakarta, bahwa ia sudah hendak berangkat ke Timur Tengah, namun orang tuanya memintanya tetap di Indonesia. Akhirnya ia berkuliah di UIN Jakarta.

“Saya tanya pada paman saya, yang masih sahabat dari Pak Kyai. Katanya ada pesantren yang sungguh hebat, dan memiliki standar keilmuan yang tinggi. Dan ternyata itu adalah Darus-Sunnah,” imbuhnya.

Disebutkannya pengalaman yang paling berkesan di Darus-Sunnah, “Saya ini adalah santri yang paling sering dihukum Pak Kyai untuk adzan dan membersihkan kamar mandi, sehingga tiap jengkal jeding itu saya tahu. Saya ini santri yang ndableg,” kenangnya, disambut tawa hadirin.

“Alhamdulillah saya mondok di sini. Lumrahnya putra kyai itu agak ndableg, itu agaknya terjadi pada diri saya. Tapi Pak Kyai mampu mengikis tinggi hati saya selama ini,”.

Cak Hamid menyebutkan, bahwa ia sangat terkesan dengan pendidikan di Darus-Sunnah. Mulai tesnya, sistem pengajiannya, serta model pendidikan yang diterapkan Pak Kyai. “Pak Ali ini benar-benar mewarisi sifat rouufur rohiim-nya kanjeng Nabi. Pendidikan dengan pengantar bahasa Arab ini membuat saya terpacu untuk mengejar kemampuan yang belum saya kuasai, di samping Pak Kyai selalu sabar mendidik kami,” terang pria pengasuh pesantren Al Mubarok Ash Shiddiqi, Jember ini. “Pesan yang saya ingat, dengan bahasa Jawa, adalah macan ora bakal dadi buas yen manggon sak kandang, (macan tidak akan menjadi buas dan ganas jika berada dalam satu kandang yang sama). Ketika pamit, saya disuruh untuk melanjutkan kuliah, mengajar, dan menulis,” imbuhnya.

Dosen di sejumlah perguruan tinggi di Jember ini menyebutkan, bahwa yang paling ditekankan oleh Pak Kyai adalah dalam keistiqomahan dan akhlak. “Rutinitas yang beliau lampaui selama ini, baik di Istiqlal maupun tempat lain, tidak menghalangi istiqomah beliau untuk terus membina santri-santrinya,” ujarnya. “Satu yang saya ingat soal akhlak beliau, adalah ketika berebut mencium tangan dengan paman saya, karena sifatnya yang sungguh tawadlu’,”

Pesannya kepada para santri, adalah untuk bangga dan melanjutkan nilai-nilai pesantren yang telah dirintis Kyai Ali Mustafa Yaqub ini. “Pertahankan akhlak mulia, Insyaallah ilmu kalian akan barokah. Juga sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ibnul Mubarok: Barangsiapa tidak mengetahui tata krama, tidak akan mengetahui sunnah. Barangsiapa juga yang tidak mengetahui sunnah, tidak akan mengenal wajib. Dan yang tidak mengenal hal wajib, tidak akan mencapai makrifat,”.

ditulis oleh : M. Iqbal Syauqi

Mahasantri Darus-Sunnah Semester IV

Leave a Reply