Sabtu (30/04/16). Bagi ‘Ali Nurdin, sosok Kyai ‘Ali Mustafa tidak hanya seorang guru, tapi lebih dari itu. Interaksi yang dibangun antara keduanya sudah berlangsung hampir 24 tahun sehingga beliau sangat mengenal siapa dan bagaimana perkembangan Kyai ‘Ali Mustafa dari masa ke masa.
Sudah dua malam, ‘Ali Nurdin menghadiri acara tahlilan dalam rangka mendoakan kepulangan Kyai ‘Ali. Kali ini ‘Ali Nurdin berbagai cerita dan pesan-pesan yang beliau dapatkan dari guru sekaligus ayah baginya. “Pak Kyai itu orangnya humoris, perfectionis, dan ambisius untuk mewujudukan setiap keinginannya”, begitu kata ‘Ali Nurdin kepada hadirin pada malam tadi.
Kesan humoris juga masih dirasakan oleh para santri yang sekarang masih mondok di Darus Sunnah. Beliau kerapa kali menyampaikan guyonan di sela-sela halaqah fajriah mengaji shahih bukhari dan musl

Suasana Jama'ah Tahlil Malam Hari ke-Tiga
Suasana Jama’ah Tahlil Malam Hari ke-Tiga

im. Beliau juga sosok yang perfectionis dalam segala hal, salah satunya adalah dalam hal kop surat, yang menurut ‘Ali Nurdin memiliki sejarah panjang hingga menjadi seperti sekarang karena saking telitinya Pak Kyai. Hal yang sangat diperhatikan beliau adalah perihal kebersihan, bahkan beliau tidak enggan untuk memungut sampah sendiri dan membuangnya ke tempat sampah.
‘Ali Nurdin melanjutkan, bahwa ada beberapa pesan dari Pak Kyai yang betul-betul beliau pegang dari, yaitu

  1. Jangan pernah meninggalkan Shalat Jama’ah
  2. Inilah pesan yang menurut ‘Ali Nurdin cukup berat. Namun berbeda dengan Pak Kyai, bahkan karena alasan tidak mau meninggalkan shalat jama’ah beliau akhirnya mengundurkan diri dari salah satu kampus tempat beliau mengajar. Pasalnya, beliau yang mengajar hadis, setiap kali masuk dzuhur masih saja harus mengajar, dan hal ini dirasakan tidak cocok oleh beliau.

  3. Kalau jadi Kyai, Ustadz atau apapun Jangan Pasang Tarif
  4. Bicara masalah ke-ikhlasan, maka beliau lah teladan terbaikya. Beliau tidak mata duitan, tidak hubbud duny apalagi masang tarif buat pengajiannya. Bahkan pada masa awal adanya pesantren ini, segala hal terkait biaya operasional pondok ditanggung oleh beliau.

Tulisan ini tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana sejatinya sosok beliau yang begitu mulia. Allah yarhamhu.

Jama'ah memenuhi masjid Muniroh Salamah
Jama’ah memenuhi masjid Muniroh Salamah