Kira-kira di akhir tahun 2013, di ruang tamu ndalem Kiai Ali setelah halaqah fajriah, seperti biasa kami dipanggil oleh beliau. Saat itu, kami sedang dalam tahap mempersiapkan brosur pertama untuk Madrasah Darus-Sunnah Program Enam Tahun setingkat Tsanawiyah-Aliyah.

Setelah mengamati desain draft brosur itu, beliau terdiam sejenak sambil mengamati bagian depan brosur yang memuat logo Darus-Sunnah, foto gedung, dan foto beliau sendiri. Setelah itu, beliau sedikit menyebutkan sejarah logo itu, bahwa logo itu dulu adalah usulan Ust. Dr. KH. Ali Nurdin, santri pertama Darus-Sunnah.

Kemudian beliau bertanya kepada kami, “Mâdzâ tarô fî ma’nâ hâdzâ al-syi’âr? Logo aw al-syi’âr lâ budda an yakûna lahû ma’nan, mâ yusammâ ‘indakum bi filosofis. [Menurutmu, makna logo ini apa? Logo itu harus punya makna. Katamu, makna filosofis.]

Kamipun terdiam sambil memandangi logo itu. Bingung. Belum pernah ada yang menjelaskan sebelumnya kepada kami tentang filosofi logo itu. Yang kami tahu bahwa logo Darus-Sunnah itu sangat unik, menarik, dan eye catching banget lah pokoknya!

Entah apa yang membuat kami lancang menjawab secara asal-asalan saat itu.

“Lâ adrî,  ustâdz! [Kami tidak tahu, Kiai!]” Jawab kami simpel sambil senyam senyum menunduk malu campur segan, takut tidak sopan, dan entah rasa apa lagi.

Tapi, anehnya saat itu koq ya kami lanjutkan jawaban itu. Setelah ngaku tidak tahu, eh malah nambahin jawaban.

“Lâkin, syakluhû mitsla thâir Garuda, syi’âr Indonesia. [Tapi, kalau diamati sih bentuknya mirip burung Garuda, lambang Negara Kita, Indonesia.] Kata kami ngarangngasal, dan ngayal.

“Hahh… Garuda?!! [Apa, Garuda?!]” respon beliau segera dengan nada sedikit kaget sambil tersenyum kecil.

“Lââ… keif hadza Garuda?! [Ya Nggak lah… Gimana, Garuda koq seperti ini! Tidak ada mirip-miripnya]” tampaknya hayalan kami itu ditanggapi serius oleh beliau.

Lalu, kami beranikan sedikit berargumentasi. Jari jempol tangan kanan kami pun kami jalankan ke gambar logo Darus-Sunnah yang ada di meja tamu itu.

“Hâdzâ ra’suhû, lakin yatawajjah ilâ al-yamîn, ammâ Garuda fayatawajjah ilal yasâr. [Ini kepalanya. Hanya saja, ia menghadap ke kanan. Sedangkan burung Garuda menghadap ke kiri.]” Kata kami sambil menunjuk ke bagian kanan atas yang membentuk siluet atau sketsa huruf dal (د) pada logo bulat itu.

Setelah itu, beliau tidak menanggapi lagi hayalan kami itu. Kami pun jadi kepikiran, apa sebenarnya filosofi di balik logo unik ini.

Beberapa hari setelah itu, saat kesempatan sowan lagi, kemudian beliau menjelaskan apa makna di balik logo itu. Kami tidak begitu ingat poin apa saja yang beliau sampaikan saat itu, karena memang momen sowannya masih soal urusan desain brosur, tidak ada sama sekali bayangan adanya agenda diskusi makna logo.

Yang kami ingat saat itu adalah ada unsur ketegasan, kegagahan, optimisme, dan garis lingkaran yang tak berujung, namun membentuk beberapa huruf yang merangkai frasa Darus-Sunnah (دار السنة) itu. Entah apa itu. Setelah itu, sudah! Tidak ada lagi kepikiran tentang logo. Bagi kami, yang penting desainnya sudah disetujui, sudah… alhamdulillah.

Ternyata, beberapa bulan setelah itu, di buku wisuda mahasantri, beliau menuliskan makna filosofis logo bulat itu. Kami pun akhirnya paham, bahwa saat itu beliau sedang merumuskan makna filosofis yang jâmi‘ mâni’ dalam menggambarkan visi-misi beliau mendirikan Darus-Sunnah dan rumusan standar kompetensi lulusan pesantren ini.

Di buku album wisuda tahun itu, tepat di bawah logo tertulis dalam tiga Bahasa,

القوة في الاعتقاد

Strong in Principle

Kokoh dalam Prinsip

الوضوح في الوقف

Clear in Attitude

Tegas dalam Sikap

اللين في الآداء

Flexible in Performance

Luwes dalam Penampilan

Dari situ, kemudian kami paham bahwa makna filosofis yang telah dirumuskan beliau adalah tiga itu. Kalau begitu, makna ini harus dihidupkan. Harus disyiarkan. Akhirnya, dalam berbagai media informasi Darus-Sunnah selalu tersebar tagline pondok dalam hal karakter santri.

Jika sebelumnya,  pak kiai memiliki tag line komposisi kurikulum Darus-Sunnah dengan istilah tsulatsiyyatul ma’had (trilogi Pondok), yaitu Dirosah [Study], Munazzhamah [Organization], dan Istijmâm [Recreation], maka dalam hal karakter santri dirumuskanlah istilah tsulâtsiyyâtus santri (Trilogi Santri atau Tri Pola Dasar Santri), yaitu tiga yang di atas tadi itu. Tahun 2016, pascawafatnya pak Kiai, tri pola dasar santri itu mulai tersosialisasikan dengan baik dan luas.

Trus, di mana garuda-garuda nya? Hehe…

Ah, setidaknya hayalan tentang garuda itu sudah bisa membuat beliau tersenyum. Itu sudah filosofis banget buat kami. Alhamdulillah!

(Ust. Dr. Ubaydi Hasbillah)

Leave a Reply