Mengenang almarhum pak Kiai bagi kami adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Kenangan itu dapat mengembalikan rasa kebersamaan, meskipun secara fisik tak mungkin kami bersamanya lagi. Mengenang beliau bagi kami adalah termasuk sunnah Nabi dalam hal mengingat-ingat dan menyebut-nyebut kebaikan orang yang telah wafat (udzkuru mahasina mautakum). Mengenang beliau, bagi kami adalah sedikit saja dari bentuk “birrul walidain” kami kepada beliau yang telah kami anggap sebagai orangtua kami sendiri. Singkatnya, mengenang beliau adalah bidah yang paling nikmat.

Kenikmatan itu ternyata juga pernah dirasakan oleh Baginda Nabi. Beliau seringkali mengenang kebaikan alhamrhumah istrinya, bunda Khadijah. Beliau sering mengadakan slametan dengan cara menyembelih kambing untuk kemudian dibagi-bagikan kepada para tetangga dan sanak famili dan handai taulan bu Khadijah, sekedar untuk mengenang almarhumah. Dengan demikian, itu bukan bidah. Bukan sekedar bidah hasanah, tapi bahkan sunnah yang benar-benar dilakukan oleh Nabi sendiri hingga kadang membuat bunda Aisyah cemburu dan berseloroh, “Seolah-olah tidak ada wanita selain dia [Khadijah] di dunia ini!”

Detik-detik menuju seribu hari pascawafatnya guru kami, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, ini ada kenangan menarik yang sangat berharga bagi kami. Kenangan itu setiap hari kami rasakan, setiap petang dan kadang pagi juga. Itulah kenangan berupa lantunan kidung adab belajar yang dibacakan oleh seluruh santri dan mahasantri Darus-Sunnah setiap harinya.

Kidung Santri: Kenang-kenangan dari Pak Kiai

Akhir bulan Agustus 2006 adalah awal kami nyantri di Pesantren Darus-Sunnah yang telah kami idam-idamkan sejak dua tahun sebelumnya, tepatnya saat kami duduk di bangku kelas 3 Aliyah. Awal pertemuan yang mengesankan itu sekaligus menjadi penanda resminya kami menjadi santri yang secara konsen mengkaji hadis-hadis Nabi, sebuah bidang keilmuan yang sebenarnya saat itu belum begitu manis rasanya di hati kami. Namun alhamdulillah, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk dapat merasakan manisnya subjek ini.

Kalimat pertama yang kami ucapkan saat nyantri di Darus-Sunnah adalah bait-bait nyanyian yang disebut dengan manzhumah adab al-thalab (kidung etika belajar). Tidak ada kalimat yang lebih dulu kami ucapkan secara formal sebagai santri Darus-Sunnah, selain bait-bait tembang tersebut. Pasalnya, kalimat itulah yang menjadi tanda bahwa belajar dalam halaqah mudzakarah telah siap dimulai. Sedangkan bagi mahasantri baru, tidak ada aktifitas belajar apapun di pondok ini sebelum halaqah mudzakarah. Artinya, jika mudzakarah adalah aktifitas pertama kali bagi setiap santri baru atau santri lama setelah liburan,  sedangkan ia hanya akan dimulai setelah melantunkan bait-bait tersebut, maka bait itulah yang menjadi kalimat pertama kami untuk menjadi santri Darus-Sunnah.

Ya, bait-bait itu adalah ijazah dari Kiai Idris Kamali, salah satu pengasuh di Ponpes Tebuireng Jombang pada tahun 1960-1970an, kepada pak Kiai Ali. Kami yang sebelumnya juga nyantri di Tebuireng merasa terkejut dengan nazhaman yang tertulis nama pencipta (nazhim)nya di situ, li al-syaikh Idris Kamali rahimahullah.

Sedikit bertanya-tanya kala itu, kenapa selama nyantri di Tebuireng, kami sama sekali tidak pernah mendengar bait-bait ini?! Sekedar kisahnya pun tidak! Bahkan sekedar nama atau judulnya pun tidak! Bahkan, setelah kami tanya kepada ayah kandung kami yang juga santri langsung kiai Idris, ternyata beliau juga tidak mengetahui ada nazham itu. Guru-guru kami di Pesantren yang juga masih sempat belajar kepada kiai Idris juga menyatakan ketidakkenalannya dengan kidung berbahasa Arab itu.

Sebagai santri, kami selalu husnuzhan kepada kiai. Mayoritas santri adalah uncritical lover kepada kiainya, alias pecinta yang tidak kritis kepada kiainya. Bahasa lainnya, cinta santri kepada kiainya itu seperti cinta buta. Ya sudah, akhirnya kami biarkan saja riwayat nazhaman itu tetap pada misterinya yang indah dan tak membuat kami penasaran lebih jauh.

Bahkan, ketika kami melantunkannya setiap hari pun, ternyata di situ ada banyak sekali bacaan yang keliru, bukan hanya salah ketik (mushahhaf), tapi juga salah pengucapan alias salah baca (muharraf), namun sudah jadi biasa. Sehingga, tak terasa kalau ada kesalahan. Salah kaprah. Tak ada yang menyadari kekeliruan itu.

Tahun 2009, kami secara pribadi sebenarnya tertarik untuk mengupas bait-bait itu dalam syarah. Ceritanya, saat itu ada seorang teman satu kelas waktu di Tebuireng sedang menulis skripsi tentang kitab Adabul Alim wal Muta’allim karya Kiai Hasyim Asy’ari, untuk tugas akhirnya di UIN Jakarta. Dua kali setiap minggu, ia rutin mengajak kami mendaras kitab tersebut di sudut barat daya aula Darus-Sunnah. Saat itulah, kami kepikiran menulis syarah Adabut Thalab yang menurut dugaan kami, pasti punya kaitan dengan kitab ini. Karena hanya diangan-angan saja, maka pikiran itu tak berwujud kecuali hanya keinginan.

Riwayat Tembang Adabut Tholab

Hingga masuk tahun 2012, pikiran itu kembali mencuat saat Kang Alfaiz Sa’di, mahasantri cerdas asal Madura, pagi-pagi mengajak kami ngobrol di masjid Munirah Salamah. Tiba-tiba, ia bertutur bahwa ia sedang menulis syarah Manzhumah Adab Thalab itu. Senang rasanya, ada yang sudah mengingatkan kembali pikiran itu, namun sekaligus sedih karena keduluan orang lain.

Informasi baru pun kami dapatkan dari Kang Faiz. Info itu tentang hal yang pernah membuat kami bertanya-tanya saat awal nyantri di Darus-Sunnah itu.

“Manzhumah ini dulu ceritanya bagaimana, Kang?” Tanya kang Faiz kepada kami.

“Saya juga tidak tahu!” Jawab saya singkat.

“Soalnya, saya pas lagi iseng-iseng cari info tentang nazham ini, ternyata nemu nazhaman ini persis, dengan ada beberapa perbedaan dan tambahan yang tidak ada di sini. Ada di kitab Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Ahlih, karya Imam Ibnu Abdil Barr.” Katanya menginfokan hal baru itu.

“Nah, di situ disebutkan bahwa nazhaman ini milik al-Lu’lu’i. Dan menurut versi lain, kata Ibnu Abdil Barr, ini milik al-Ma’mun. Tapi entah siapa itu al-Lu’lu’i dan siapa itu al-Ma’mun.” Lanjutnya menerangkan.

Mendengar informasi baru itu, kami pun jadi penasaran kembali dan sedikit bertanya-tanya kritis. Setelah itu terjadi diskusi ringan selama sekitar lima belas menitan. Dan sebelum berpisah, kami pesan agar dikopikan kitab yang jadi referensi utama bagi ilmu Adab Thalibil Hadits itu agar bisa kami tunjukkan ke Pak Kiai. Karena, beliau akan sangat senang kalau kita menyampaikan hal baru dengan ada referensinya yang otoritatif dari kitab kuning.

Benar, beberapa hari kemudian, kitab itu telah selesai digandakan. Langsung kami sowankan kitab fotokopian bersampul kuning itu kepada pak Kiai usai halaqah fajriyyah. Respon beliau sangat bagus.

“Alhamdulillah!,” dawuh beliau mengawali responnya.

“Anâ talaqqoituhu min Kiai Idris, wa huwa nâwalanî iyyâhu wa qôla lî, ‘iqro’ hâdzâ ‘indamâ tadrus au tudarris.’ [Saya dulu dapat nazhaman ini dari Kiai Idris. Beliau hanya menyerahkan lembaran berisi bait-bait ini kepada saya lalu berpesan agar ini selalu saya baca saat belajar atau mengajar.]Lanjutnya mengenang sejarah periwayatan nazhaman itu secara munawalah.

“Wa lam yubayyin [Kiai Idris] hîna’idzin min aina akhodza wa mâ al-marja’. Wa laisa ‘alaihi ismun-nâzhim. Fa zhonantu annahû min ‘amalihi huwa. [Tapi, beliau saat itu juga tidak menjelaskan dari mana beliau dapatkan dan di kitab apa. Sedangkan di lembaran itu tidak tertulis nama pencipta nazhamnya. Ya, saya pun menduga bahwa itu adalah karya beliau saja.]

“Idzan, uktub hâdzâ marrotan ukhrô. Wa kammil mâ naqosho, wa shahhih mâ khotho’, mitsla mâ fi hâdzâ al-kitâb! Tsumma a’id-hu ilâ shôhibihi. Li annahû ahaqqu bihi. Wa nahnu lâ na’lam qoblu. Fa uktub:…” Pinta beliau mendikte kami.

منظومة آداب الطلب

منسوبة إلى اللؤلؤي وقيل إلى المأمون كما نقله الإمام ابن عبد البر في جامع بيان العلم وأهله

[Kalau begitu, sekarang tulis ulang nazhaman ini. Lalu lengkapi bagian-bagian yang kurang! Koreksi bagian-bagian yang keliru! Persis seperti yang ada di kitab ini. Lalu kembalikan nisbat nazham ini kepada peciptanya, karena beliaulah yang lebih berhak. Sedangkan saat itu, kita kan belum tahu siapa penciptanya yang sebenarnya. Kemudian tulis seperti ini:…” Pinta beliau mendikte kami.

Manzhumah Adab al-Thalab:

Dinisbatkan kepada al-Lu’lu’i, dan menurut versi lain kepada al-Ma’mun, sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil Ilmi wa Ahlih.

Sejak saat itu, manzhumah Adab al-Thalab tampil dalam format baru yang asli, hingga kini. Alhamdulillah.

Oh iya, padahal sebelum itu, tahun 2010, kawan-kawan dari Tebuireng pernah menulis biografi Kiai Idris berjudul Tokoh Besar di Balik Layar. Saat pengumpulan data, tim penulis yang saat itu diwakili oleh kawan kami, Atunk alias Fathurrahman Karyadi, datang ke Darus-Sunnah untuk wawancara kiai Ali tentang kiai Idris. Salah satu oleh-oleh yang mereka dapatkan adalah ya bait-bait ini, yang kemudian ikut terbit dalam buku biografi Kiai Idris itu. Namun, saat buku tersebut terbit, koreksi dan penisbatan nazhamnya kepada pemiliknya masih belum terjadi. (Ust. Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah)

Leave a Reply